Tak henti musibah menyapa Pesantren, ujian dan ragam tuduhan makin berat dan berkembang, membuat Pesantren makin terpuruk tak bangkit, meski di sisi yang lain semakin banyak Pesantren yang tersadar dan terus berbenah, memperbaiki pola dan pendekatan dengan belajar dari peristiwa masa lalu untuk melanjutkan eksistensi pengabdiannya di masa depan. Semoga Pesantren makin tangguh di tengah risiko rapuh. Duka Pesantren Indonesia terkini adalah meninggalnya sekitar 52 santri dari total sekitar 146 korban tertimbun bangunan di di Pesantren Alkhoziny Sidoarjo Jawa Timur (Detiknews, 2025). Semoga Allah kuatkan Alkhozini melewati musibah besar ini.
Terbayang duka dan luka lama yang belum selesai terbalut, muncul kembali luka baru yang lebih dalam dan berdampak jangka panjang. Luka yang menjadi pro dan kontra kalangan masyarakat dan sosial media, dan luka Pesantren memang selalu seksi menjadi bahan content viral sejak beberapa tahun belakangan ini. Mulai dari isyu kekerasan seksual, dugaan kematian akibat perundungan, hingga beberapa kondisi relasi santri dengan pembina dan pimpinan Pesantren, tak pernah berhenti menjadi sorotan semua mata.
Tak cukup dengan itu, cerita buruk dari Pesantren negeri seberangpun menjadi trending dan “menghantam” Pesantren Indonesia. Sebut saja film Walid yang muncul tiba-tiba, begitu kuat merasuk Indonesia hingga menghadirkan stigma panjang “Pesantren Indonesia dan Walid” (padahal film ini tidak seviral itu di negeri asalnya). Juga kasus Zara Qairina murid sekolah berasrama di Malaysia yang kabarnya meninggal akibat perundungan di asrama. Berita ini juga menggemparkan dan menggeret Pesantren Indonesia. Kedua cerita itupun menyatu seolah-olah menjadi bagian dari Pesantren Indonesia, memposisikan Pesantren Indonesia semakin “terdakwa”, bahkan atas cerita viral dari negara yang berbeda.
Demikian sepenggal luka Pesantren Indoensia, dan sebagai lembaga peneliti dan pemerhati di bidang Pesantren, kami menemukan beberapa cerita dan kisah lain yang patut juga menjadi perenungan bersama, tentang psikologi santri, pembina asrama, pimpinan Pesantren hingga fasilitas dan sarana prasarana pendidikan untuk santri. Bahwa keterbatasan sarana prasarana yang dimiliki Pesantren menjadi salah satu akar banyak peristiwa duka di Pesantren Indoensia.
Duka yang menyelimuti Alkhozini hari ini juga masih di seputar fasilitas belajar santri dan sarana prasrana Pesantren. Kami sebut juga beberapa kasus pelecehan seksual, terjadi karena minimnya sarana prasarana kamar mandi yang layak, ruang privacy santri dan ustaz ustazah yang juga jauh dari kata patut, rumah hunian mereka dengan jarak yang sangat berdekatan tanpa privacy untuk saling menjaga “aurat”. Kondisi itu menjebak pelaku lebih mudah mengakses mangsa (Haidir, 2025), meskipun pelaku tak memiliki niat jahat sebelumnya, dan juga tak memiliki riwayat kriminal sebagai permulaan aksi bejatnya, namun karena “miskin sarana” menjadikan guru dan murid “saling makan” dalam aksi kekerasan dan pelecehan.
Hal ini mirip dengan fenomena kekerasan seksual orang tua kandung pada anaknya yang tinggal serumah tanpa kamar bersekat. Kondisi “miskin sarana” itu memantik instink hewani orang tua untuk memangsa putra putrinya sendiri. Begitulah yang terjadi di beberapa Pesantren saat ini. Lantas kemana kita, dimana negara?, Berapa anggaran buat Pesantren membangun kamar mandi, berapa anggaran Pesantren untuk mendirikan kamar yang layak bagi ribuan santri dan para guru mereka di dalam lingkungan pondok, berapa anggaran yang diberikan untuk mendirikan ruang-ruang belajar yang aman dan nyaman, halaman yang luas dan taman bungan yang indah. Apakah tradisi “miskin” di pesantren ini mau dirawat berkepanjangan dan dikemas menjadi dongeng berjudul “perjuangan anak pondok”?.
Saat ini tampaknya Pesantren masih bekerja sendirian, tak ada yang datang menghampiri mereka untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Sementara masyarakat berduyun-duyun datang menitipkan anak anak mereka ke Pesantren, karena khawatir dengan gempuran jaman dan tekhnologi serta pergaulan bebas yang semakin beringas dan jahat. Pada saat yang bersamaan Pesantren masih tetap menjadi tulang punggung pendidikan agama yang menjadi pelindung utama generasi hari ini. Masyarakat masih bergerombol dan berbondong-bondong menitipkan anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan “moral dan agama” yang tidak didapatkan di sekolah reguler secara menyeluruh. Hasil survey kami menemukan peningkatan animo masyarakat dengan lonjakan jumlah santri mencapai 15-31% sepanjang tahun 2022-2024. Ribuan mereka masih datang menggantung mimpi baik anak anaknya di Pesantren.
Sementara itu Pesantren hanya mengandalkan biaya bangunan iuran santri untuk membuat tibing kamar mandi, hanya mengandalkan iuran masyarakat yang tidak seberapa untuk mendirikan bilik bilik penuh sumpek, padat, panas, gerah, sempit, bau keringat, crowdith dan menjadi kumuh dan lusuh yang memicu perundungan, kebosanan, stres, burn out, tekanan psikologi dan sosial yang tinggi hingga kematian santri. Namun sayang, Pesantren tampaknya hanya mengandalkan diri mereka sendiri, merasa hidup ini cukup dengan bersandar pada kata “ikhlas dan tawakkal”, dan membangun kamar seadanya, ruang belajar sekedarnya, masjid apa adanya, dan tumbanglah seluruh sarana prasarana itu mengorbankan ratusan santri yang sedang mengaji di dalamnya. Lantas kita bertanya, fasilitas pendidikan ini tanggung jawab siapa?
Di lain sisi, bagaimana kabar para pengasuhnya, pendirinya, guru disana, tukang masak, tukang kebersihan, penjaga kantin, hingga security, bagaimana reaksi mereka dengan tiap peristiwa duka dan luka yang menyapa. Mereka juga trauma, sangat luka secara psikologis. Dalam proses pendampingan kami pada beberapa pengelola pondok yang terkena musibah serupa, ditemukan mereka mengalami kondisi traumatik berkepanjangan dan menahun, hingga tak berani membuka percakapan bertema pendidikan dan santri, namun sayang, belum banyak pihak yang terlibat memberikan pertolongan untuk memulihkan luka-luka psikologis mereka, apalagi stigma dan ancaman hukum berlapis yang kemungkinan diterima.
Mereka yang selama ini merawat Pesantren, menjaga Pesantren, penuh dedikasi dan ketulusan mendidik anak-anak Indonesia dengan segala kelemahan dan keterbatasan yang mereka (pengasuh pondok) miliki, skill yang minim, pengetahuan yang terbatas, gaji bulanan yang terkadang hanya cukup untuk membiayai ganti sabun, sampo dan sikat gigi, namun mereka tetap memilih ada di pondok, menjaga pondok, merawat pondok dengan sisa-sisa semangat mereka. Kami mengajak pemerintah dan siapa saja untuk menguatkan kehadiran jauh ke dalam, menengok mereka lebih lama, membangun harmoni tidak setengah-setengah, agar mereka kembali percaya diri, bahwa di negara ini mereka sebagai pendidik juga merasa terlindungi, bahwa perjuangan mereka ditemani banyak peduli, yang tidak mudah memberi stigma dalam upaya yang masih setengah langkah. Jangan biarkan para pejuang Pesantren tergilas idealisme mereka sendiri dalam kebodohan dan ketidakpedulian orang lain terhadap perjuangan mereka di tempat sunyi bernama Pondok Pesantren.
Mereka (para pengasuh pondok) mendidik tanpa DAPODIK, tanpa sertifikasi, tanpa tunjangan fungsional, tanpa pembinaan berkelanjutan, tanpa supervisi terstrutur, berkala dan konsisten, tanpa admisntrasi dan dokumen yang bisa menjaga mereka dari malpraktik pengasuhan. Guru di sekolah reguler bisa merasakan perhatian, mendapatkan pelatihan deep learning, coding, hingga ragam pelatihan terstruktur yang menguntungkan mereka secara kognitif, afektif dan psikomotorik. Lahhhhhhh, pembina asrama siapa yang peduli pendidikan berkelanjutan mereka. Boro boro disupervisi pengawas bangaimana kualitas kamar mandi, masjid dan ruang pribadi mereka, kompetensi mereka saja tidak ada yang memperhatikan dengan serius, sementara mereka adalah ujung tombak pendidikan Pesantren yang tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Akhir kata, jangan salahkan orang baik membantu negara dengan caranya sendiri, meski risikonya mungkin akan ada bahaya jika tanpa dibekali ilmu dan keterampilan yang memadai untuk mengasuh jutaan anak-anak Indonesia yang hingga kini tulus ikhlas mengaji bersama Kyai.
Terakhir, meski pesantren dilabel sedemikian rupa, masyarakat tidak akan bisa jauh dari layanan pendidikan pesantren. Bagaimana tidak, ancaman pergaulan bebas dan maraknya perzinahan yang makin tinggi dengan usia pelaku dan korban yang makin muda. Salah satu penyebab kondisi itu adalah ketidakfahaman anak-anak secara syariat, mereka tidak memahami halal haram hukum agama, zina, dsb. Kebodohan itu mengantar anak pada tindakan zina yang terpaksa nikah muda dan akhirnya melahirkan bayi dengan risiko stunting. Belum lagi orang tua yang super sibuk dengan ragam urusan dunianya, sibuk dengan kondisi mentalnya yang juga tidak baik-baik saja, yang akhirnya menititpkan anak-anak mereka di Pesantren untuk mendapatkan perlindungan dari bahaya dan ancaman zaman yang makin kesini makin kesana.
Kondisi itu memaksa Pesantren harus tetap hidup dan melayani bertumbuhnya nilai-nilai agama, moral, adab, dan akhlak generasi Z dan Alpa. Mungkin tidak semua bsia diselesaikan Pesantren, namun yakinlah, ada begitu banyak persoalan anak bangsa yang bisa dituntaskan melalui pendekatan 24 jam sorot kamera Kyai dan Pesantrennya. Wong demo berdarah dan berjarah beberapa saat lalu, juga bisa padam setelah kita mengeluarkan jurus terakhir dengan himbauan suara Ulama dan Kyai yang turun gunung menyapa kita.
…………………………………………………………………….
*Tulisan ini dipersembahkan oleh Lab. Santri (Laboratorium Pesantren Inspirasi), sebuah gerakan psikososial yang concern pada isyu santri dan pesantren masa kini. Pendamping Pesantren dalam peningkatan kompetensi pembina asrama, supervisi pembina asrama, hingga pengembangan organisasi (organization development) sekolah berasrama dan Pesantren. Layanan : 0878-2238-1040