Cahaya Bangsa

STOP HAFAL RUMUS! KUASAI FISIKA DENGAN METAKOGNITIF (STRATEGIBELAJAR ANTI-BUNTU)

By: Suci Handayani
(Magister Pendidikan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya)

Metakognitif merupakan kesadaran (pengetahuan) dan kontrol (pengaturan) individu terhadap
proses berpikir dan belajarnya sendiri. Istilah ini sering didefinisikan secara populer sebagai
“berpikir tentang berpikir” (thinking about thinking). Dalam prakteknnya metakognitif bukan
hanya tentang mengetahui suatu informasi, tetapi juga tentang mengetahui bagaimana informasi
itu dipelajari, diingat, dan digunakan. Salah satu bahasan paling penting yaitu Pengetahuan
Metakognitif (Metacognitive Knowledge)
Metakognitif knowledge berfokus pada apa yang Anda ketahui tentang proses berpikir dan
belajar. Pengetahuan Metakognitif adalah pemahaman deklaratif (fakta yang diketahui) yang Anda
miliki tentang diri Anda, tugas, dan strategi yang tersedia. Ini berfungsi sebagai dasar untuk
mengatur (meregulasi) pembelajaran Anda. Pengetahuan ini terbagi menjadi tiga sub-komponen
utama:
1. Pengetahuan Orang (Person Knowledge)
Pengetahuan ini berkaitan dengan bagaimana Anda memahami diri Anda dan orang lain
sebagai pembelajar. Mencakup pemahaman tentang kekuatan, kelemahan, dan karakteristik
kognitif.
• Pribadi Internal: Mengenali gaya belajar Anda (visual, auditori, atau kinestetik),
kemampuan fokus Anda (misalnya, “Saya hanya bisa berkonsentrasi penuh selama 45
menit”), dan emosi Anda saat belajar (misalnya, “Saya menjadi cemas saat menghadapi
soal hitungan yang kompleks”).
• Pembedaan Individu: Memahami bahwa orang lain memiliki gaya belajar yang berbeda.
Misalnya, teman Anda mungkin ahli dalam menghafal tanggal, tetapi Anda lebih baik
dalam menganalisis tren sejarah.
• Contoh: “Saya tahu saya cepat lupa nama ilmiah, jadi saya harus membuat kartu flash
untuk mengulanginya setiap malam.”
2. Pengetahuan Tugas (Task Knowledge)
Pengetahuan ini berkaitan dengan sifat dari tugas pembelajaran yang sedang Anda hadapi. Ini
membantu Anda menentukan seberapa sulit tugas itu dan sumber daya apa yang dibutuhkan.
• Kompleksitas Tugas: Memahami apakah tugas tersebut memerlukan pemahaman
mendalam (misalnya, membuktikan persamaan Fisika) atau hanya pengambilan informasi
(misalnya, mencari definisi di kamus).
• Persyaratan Tugas: Mengetahui apa yang harus diselesaikan. Misalnya, “Tugas ini harus
disajikan dalam bentuk presentasi (visual), bukan hanya esai (tertulis).”
• Contoh: “Meringkas bab Fisika tentang Elektromagnetisme akan lebih sulit daripada bab
tentang Hukum Newton karena Elektromagnetisme melibatkan konsep abstrak dan rumus
yang lebih banyak. Saya perlu waktu dua kali lebih lama.”
3. Pengetahuan Strategi (Strategy Knowledge)
Pengetahuan ini berkaitan dengan ketersediaan, efektivitas, dan kondisi penggunaan berbagai
strategi belajar. Ini menjawab pertanyaan “Strategi mana yang harus saya gunakan, dan kapan?”
• Repertoar Strategi: Mengetahui berbagai metode yang dapat Anda gunakan (misalnya,
membuat akronim, peta konsep, mencatat Cornell, atau Teknik Pomodoro).
• Kondisionalitas: Memahami kapan strategi tertentu lebih efektif daripada yang lain.
• Contoh: Untuk menghafal urutan (misalnya, siklus air), akronim mungkin paling baik.
Untuk menghubungkan banyak ide (misalnya, konsep ekonomi), peta konsep lebih efektif.
• Contoh Spesifik: “Saat belajar Vektor, jika saya hanya membaca, saya tidak akan
mengerti. Saya harus menggunakan strategi menggambar arah untuh mempermudah, dan
membuat analogi dengan rute jalan dalam kehidupan sehari-hari.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *